Kang Rachmat Ajak Gen Z Pahami Politik, Jangan Hanya Jadi Penonton

CIMAHI —Anak muda kerap merasa politik bukan dunia mereka. Padahal, berbagai kebijakan yang mengatur kehidupan sehari-hari, mulai dari pendidikan, lapangan kerja hingga pelayanan kesehatan, tidak lepas dari keputusan politik. Karena itu, generasi muda perlu memahami bagaimana kebijakan dibuat dan ke mana aspirasi mereka harus disampaikan.

Pesan tersebut disampaikan Ketua DPW Partai NasDem Jawa Barat sekaligus Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Drs. Mamat Rachmat, M.Si., saat menggelar kegiatan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan bersama generasi milenial dan Gen Z di GOR Olimpik Pojok, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Sabtu, 17 Oktober 2026.

Dalam pertemuan yang dihadiri perwakilan anak muda dari 15 kelurahan di Kota Cimahi tersebut, Kang Rachmat menekankan bahwa memahami politik tidak berarti seseorang harus langsung terjun ke politik praktis. Hal yang lebih mendasar adalah menyadari bahwa kebijakan pemerintah berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, termasuk masa depan generasi muda.

“Semua mau sekolah, mau apa, mau jalan, mau hidup, mau tidur, mau main, semua diatur oleh kebijakan produk-produk politik,” ujar Kang Rachmat.

Menurutnya, anak muda tidak seharusnya menjauh dari politik hanya karena menganggap dunia tersebut kotor atau tidak bersahabat. Sebaliknya, generasi muda perlu memiliki pemahaman yang cukup agar mampu menilai kebijakan, mengenali persoalan di sekitarnya, dan mengetahui saluran yang tepat untuk menyampaikan aspirasi.

Kang Rachmat mencontohkan persoalan yang dekat dengan kehidupan anak muda, seperti sulitnya memperoleh pekerjaan, biaya pendidikan, hingga akses pelayanan kesehatan. Menurutnya, persoalan tersebut perlu disikapi dengan kepedulian dan keberanian menyampaikan aspirasi, bukan sekadar diterima tanpa upaya mencari jalan keluar.

Ia juga mengingatkan pentingnya partisipasi generasi muda dalam demokrasi, termasuk menjelang Pemilu 2029. Ketika anak muda memilih untuk tidak peduli, keputusan politik tetap akan diambil dan kebijakannya tetap berdampak kepada mereka.

“Jadi kalau misalkan milenial tidak suka dengan politik terus tidak mau nyoblos, tidak mau berpolitik, tetap suaranya kebawa. Begitu nanti terpilih yang kita tidak suka, mau enggak mau kita akan ikut. Rugi kan? Suara kita enggak kepakai, tapi kita terdampak dengan kebijakan-kebijakan yang memang mereka buat,” katanya.

Bagi Kang Rachmat, kesadaran politik perlu dibangun melalui pemahaman dan keterlibatan yang sesuai dengan kapasitas masing-masing. Anak muda dapat memulainya dengan memperhatikan persoalan di lingkungan, mengikuti perkembangan kebijakan, serta aktif menyampaikan gagasan dan kritik terhadap pembangunan daerah.

Ia berharap pertemuan tersebut menjadi ruang awal bagi generasi muda Cimahi untuk lebih terbuka berdiskusi mengenai persoalan publik dan masa depan daerahnya. Dengan pemahaman politik yang lebih baik, anak muda diharapkan mampu mengambil peran lebih besar dalam kehidupan bermasyarakat, bukan sekadar menjadi penonton ketika keputusan yang menyangkut masa depan mereka ditetapkan.

(VC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.